Pandemi tak Surutkan Semangat Pelari Ultra Marathon

LARI jarak jauh atau maraton merupakan salah satu olahraga lari yang termasuk jenis olahraga kardio. Lari maraton menempuh jarak lebih dari 42 kilometer. Tentunya, sebagai salah satu cabang olahraga, berlari secara rutin meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan.

Manfaat itu disadari alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), yang tergabung dalam Yayasan Solidarity Forever (YSF). Manfaat itu pun dihadirkan dalam bentuk gelaran tahanan bertajuk ITB Ultra Marathon.

Gelaran pertama kali yaitu pada 2017. Sejak itu, YSF beserta panitia penyelenggara mendapat sambutan hangat dari partisipan acara. Sejak itu pula, YSF menggelar ITB Ultra Marathon setiap tahun.


Namun pada 2020, pandemi akibat Covid-19 menyerang Indonesia. Meski demikian, hal itu tak menyurutkan antusiasme pelari ultra marathon. YSF pun menjawab antusiasme itu dengan menggelar ITB Ultra Marathon secara virtual. Hasilnya, lebih dari 5 ribu pelari dari berbagai penjuru negeri dan lintas benua berpartisipasi dalam gelaran tersebut.

Pada 2021, pandemi masih bercokol di Indonesia namun pemerintah mulai dapat mengendalikannya. Untuk mendukung usaha pemerintah mengentaskan pandemi, YSF kembali menggelar ITB Ultra Marathon.

Kali ini, kegiatan ITB Ultra Marathon menyelenggarakan dua jenis kegiatan. Yaitu penyelenggaraan kegiatan secara fisik dan virtual.

“Di tengah kondisi pandemi yang masih memerlukan perhatian, tentunya hal ini menjadikan ITB Ultra Marathon menjadi momen terbaik untuk saling menunjukkan dukungan dan solidaritas,” ujar Ketua YSF, Susilo Siswoutomo.

Sebagai kegiatan olahraga, lari ultra marathon dapat membantu meningkatkan imunitas, semangat, dan optimisme pelakunya. Tujuannya, tentu saja, menjaga kesehatan.

Selain itu, ultra marathon menjadi momen untuk menggelorakan semangat bersama, kerha sama, dan solidaritas yang bermanfaat buat sesama. Ultra marathon pun menjadi momen untuk bahu membahu memberikan kontribusi bagi masyarakat luas.

Tentunya, gelaran itu tetap mematuhi aturan atau protokol kesehatan. Sebab protokol kesehatan harus diutamakan agar pandemi Covid-19 berakhir.

Kampus Termuda ITB Siap Berdedikasi untuk Cirebon

INSTITUT Teknologi Bandung kini semakin dekat dengan masyarakat. Perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia pun bersiap memulai kegiatan akademik di kampus baru di Cirebon, Jawa Barat.

Bangunan yang berlokasi di Kecamatan Watubelah dan Arjawinangun itu merupakan kampus ketiga ITB. Keberadaan ITB di Cirebon sebagai salah satu cara mewujudkan komitmen untuk meningkatkan peran, mutu kegiatan, hingga tanggung jawab ITB terhadap bangsa.

Sabtu, 18 Desember 2021, menjadi ajang ITB mengenalkan kampus baru ke masyarakat. ITB menggelar acara pameran dan open house di kampus tersebut.

Terlebih lagi, civitas akademika mendapat dukungan dari para alumni untuk memperkenalkan kampus yang akan memulai kegiatan perkuliahan secara hibrid pada Januari 2022 itu. Perkenalan kampus dilakukan alumni yang bergabung dalam Yayasan Solidarity Forever (YSF). Bentuk kegiatannya berupa ITB Ultra Marathon 2021.

Kegiatan itu diikuti oleh alumni, jajaran civitas akademika, keluarga besar ITB, mahasiswa, pelari profesional, hingga masyarakat luas. Mereka berlari melintasi lintasan sepanjang lebih 100 kilometer.


Pada Sabtu 18 Desember 2021, kegiatan yang dihadirkan berupa Exhibiton Run. Para peserta berlari dari garis start di Kampus Sabuga Bandung. Lalu, pelari melintasi Kampus ITB Jatinangor, Cadas Pangeran, hingga finish di Kampus ITB Cirebon.

“Terima kasih kepada para peserta ultra marathon. ITB Ultra Marathon ini membantu menghidupkan suasana kampus termuda (Kampus Cirebon),” ungkap Rektor ITB Reini Wirahadikusumah.

Menanti potensi terbaik dari Cirebon

Kampus ITB menyambut siswa-siswa terbaik dari Cirebon dan sekitarnya untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut. ITB menerima mahasiswa baru dengan dasar prestasi akademik. Namun, ITB juga memerhatikan potensi lokal di kampus tersebut berdiri.

Ada tujuh program studi yang dapat menjadi pilihan calon mahasiswa. Beberapa di antaranya Teknik Indusri, Perencanaan Wilayah dan Kota, Kriya, serta Teknik Geofisika. Seluruh program studi itu dirancang untuk mendedikasikan pengetahuan serta pembangunan untuk wilayah setempat.

“ITB mengembangkan penelitian dan pendidikan ke masyarakat. ITB akan memanfaatkan potensi-potensi khas setempat untuk berkontribusi pada wilayah setempat,” kata Rektor Reini.

Salah satu hasil karya mahasiswa yang dipamerkan yaitu Pameran Mahasiswa Program Studi Kria. Pameran itu menunjukkan capaian akademik yang luar biasa dari mahasiswa.


Lantaran itu, ITB berharap keberadaan kampus baru mampu memberikan manfaat besar untuk bangsa Indonesia, terutama di bidang pendidikan. Utamanya, manfaat itu dirasakan masyarakat di sekitar kampus.

Tentang ITB

Pemerintah kolonial Belanda mendirikan de Techniche Hoogeschool te Bandung (TH) pada 3 Juli 1920. Bangunan yang berdiri di lahan seluas 30 hektare itu pun menjadi cikal bakal berdirinya ITB.


Enam tahun kemudian, empat orang lulus dari ITB. Satu di antaranya Ir Soekarno yang kelak menjadi proklamator sekaligus Presiden Pertama RI.

Saat pendudukan Jepang, sekitar 1944-1945, TH berubah nama menjadi Bandung Kyogo Daigaku (BKD) lalu Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung.

Pada 1946, STT berpindah ke Yogyakarta dengan nama baru STT Bandung di Yogyakarta. Kemudian, kampus itu menjadi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dua fakultas di ITB kemudian menjadi bagian dari Universitas Indonesia pada 1950 sampai 1959. Yaitu Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Alam.

Namun akhirnya, 2 Maret 1959, pemerintah Indonesia meresmikan Institut Teknologi Bandung (ITB). ITB pun mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi yang berpijak pada kehidupan nyata di bumi sendiri. Tujuannya menciptakan kehidupan dan pembangunan bangsa yang maju dan bermartabat.

Hingga Juli 2020. ITB meluluskan lebih 120 ribu mahasiswa. Mereka berperan penting dalam pembangunan bangsa. ITB pun menjadi perguruan tinggi terbaik nasional sekaligus pelopor kemajuan sains, teknologi, dan seni di Indonesia.

Kerja Sama ITB-Alumni Positif dan Saling Menguntungkan

“ITB memberikan apresiasi yang tertinggi atas segala usaha yang konsisten sejak 2017, dengan berbagai kegiatan yang mendukung kegiatan di ITB.”

Apresiasi itu disampaikan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Reini Wirahadikusumah. Rektor Reini menyambut baik kontribusi Yayasan Solidarity Forever (YSF) untuk ITB. Kerja sama yang apik antara civitas akademika dan YSF itu pun membuktikan silaturahmi kedua pihak terus terjalin.

YSF merupakan yayasan yang digawangi alumni ITB, khususnya alumni Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD). YSF menggelar berbagai kegiatan penggalangan dana untuk mendukung peningkatan kualitas almamater.

Salah satu kegiatannya yaitu ITB Ultra Marathon yang digelar sejak 2017. Rektor Reini mengapresiasi kegiatan itu konsisten digelar hingga 2021.

Jalinan yang guyub dan rukun pada ITB Ultra Marathon menjadi sumbangsih dan kontribusi untuk Kampus Ganesha. Rektor Reini pun menyebutkan beberapa kontribusi itu di antaranya beasiswa mahasiswa berprestasi, perbaikan fasilitas laboratorium di FTMD, mendukung tim Vent-I ITB Salman, mendukung inisiasi riset vaksin Covid-19 di ITB, dan mendukung pembangunan teras FTMD.

“Berbagai kegiatan itu berdampak positif dan menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan untuk seluruh pihak, baik bersifat finansial maupun nonfinansial,” lanjut Rektor Reini.

Sebagai pemimpin ITB, Rektor Reini pun mengucapkan terima kasih setingg-tingginya pada peserta ITB Ultra Marathon. Para peserta terus bersemangat lari yang dimulai dari garis start di Kampus ITB di Bandung, Jawa Barat, hingga finish di Kampus ITB Cirebon.

Kegiatan itu, ungkap Rektor Reini, turut menghidupkan suasana di Kampus ITB Cirebon. Sebab, Kampus ITB Cirebon merupakan kampus termuda. Kegiatan akademiknya akan digelar mulai digelar di Januari 2022.

Pada Sabtu, 18 Desember 2021, YSF menggelar ITB Ultra Marathon secara offline atau fisik. Runners berlari melintasi lintasan sepanjang 125 kilometer dari Bandung ke Cirebon.

Exhibiton Run, demikian tajuk yang digunakan pada kegiatan tersebut. Adapun Exhibition Run merupakan rangkaian terakhir dari ITB Ultra Marathon 2021. Selain offline, ITB Ultra Marathon pun digelar secara online.

Pesertanya berasal dari kalangan alumni, keluarga besar IT, civitas akademika, dan mahasiswa. Namun, masyarakat luas beserta pelari profesional pun turut menjadi peserta.

Di garis finish, ITB mempersiapkan pameran untuk memperkenalkan kampus baru ke masyarakat. Pengunjung dapat menyaksikan hasil karya mahasiswa dalam pameran tersebut.

“Peserta juga akan kami jamu dengan makanan khas setempat di garis finish,” ujar Ketua Panitia ITB Ultra Marathon 2021 Ahmad Shalahuddin Zulfa.

Dalam kegiatan itu, panitia dan ITB tetap menerapkan protokol kesehatan. Beberapa di antaranya yaitu mengenakan masker di garis start dan menghindari kerumunan. Menurut Ahmad yang biasa disapa dengan Mas Danang, ITB Ultra Marathon 2021 akan menjadi contoh kepada bangsa Indonesia, bahwa kegiatan olahraga pun tetap harus menjalankan protokol kesehatan. Kegiatan itu juga mendukung usaha pemerintah untuk mengeluarkan bangsa Indonesia dari pandemi Covid-19.

Pelajar Usia 17 Tahun Jadi Pelari Pertama Capai Garis Finish

SUJUD sukur dihaturkan Ridho Cahya Subagja begitu mencapai garis finish ITB Ultra Marathon 2021 di depan Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) di Cirebon, Jawa Barat. Karpet merah yang membentang menjadi saksi bahwa Ridho menjadi pelari pertama yang menyentuh garis finish dalam gelaran tersebut.

Keringat yang bercucuran tak mampu menyembunyikan senyum di wajah pelajar berusia 17 tahun itu. Ia pun bangun dari sujudnya dan mulai mengatur napas.

Panitia dan pendukung pun langsung memberikan applause kepada pemuda berjersey merah hitam itu. Pengelola Penyelenggaraan Program ITB Kampus Cirebon, Iwan Kustiwan, pun mendekati Ridho. Pak Iwan, demikian ia bisa disapa, langsung memasangkan jersey bertuliskan ITB Ultra Marathon 2021 pada pemuda itu.

“Senang. Treknya keren,” kata Ridho yang merupakan peserta kategori grup beranggotakan 5 orang (Relay 5/R5) asal Cirebon itu.

Ridho dan timnya sukses menjadi grup pertama yang menaklukkan lintasan sepanjang 125 kilometer dalam gelaran tersebut. Salah satu temannya memulai start di Kampus ITB di Bandung pada Sabtu dini hari, 18 Desember 2021. Hingga akhirnya Ridho mendapat giliran untuk berlari di trek sepanjang 29 kilometer menuju garis finish. Ridho pun mengakhiri langkah cepatnya sekitar pukul 16.00 WIB.

“Tadi hujan. Tapi seru,” ungkap Ridho sambil sibuk mengatur napasnya.

Satu per satu, pelari pun mencapai garis finish di Kampus ITB Cirebon. Hujan deras yang mengguyur di beberapa lokasi dan kaki yang keram saat beristirahat di check point, tak menyurutkan semagat pelari.

Pelari kedua yang mencapai garis finish adalah Margono dan timnya, Daniel. Keduanya merupakan peserta R-2. Sebelum mencapai garis finish, para peserta mengitari jogging track sepanjang 400 meter di depan Kampus ITB Cirebon.

Mendekati garis finish, keduanya pun memacu langkah lebih cepat. Sorak sorai pendukung menyemangati keduanya. Tepat pukul 17.57 WIB, pasangan Margono dan Daniel pun melewati garis finish.

“Tantangannya banyak kendaraan gede-gede yang melintas. Karena lomba, mau panas, mau hujan, nikmati aja,” ujar Margono yang memulai start di check point 2 di Sumedang.

Sebarkan Semangat Bantu Indonesia Pulih dari Pandemi

YAYASAN Solidarity Forever (YSF) menggelar ITB Ultra Marathon 2021. Kegiatan itu mengundang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), civitas akademika ITB, keluarga besar ITB, masyarakat umum,  serta pelari profesional untuk berpartisipasi dalam ajang tersebut.

Ketua YSF Susilo Siswoutomo mengatakan antusiasme alumni begitu besar dalam ajang olahraga. Buktinya, sejak diinisiasi pada 2017, ITB Ultra Marathon mendapat perhatian alumni dan masyarakat luas. Jumlah pesertanya pun terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Pada awal penyelenggaraannya, ITB Ultra Marathon bukan hanya menjadi ajang perjumpaan kawan lama, namun juga menjadi awal momen kebersamaan untuk menyebarkan semangat menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani melalui olahraga pagi,” kata Susilo.

Untuk 2021, ujar Susilo, ITB Ultra Marathon diselenggarakan secara virtual. Sebab, Indonesia masih dalam masa pandemi menghadapi penyebaran virus Covid-19. Meski demikian, Susilo dan tim optimistis ITB Ultra Marathon 2021 mampu menggaet peserta hingga lebih 10 ribu orang.

“Optimisme itu dilandasi pengalaman bahwa ITB Ultra Marathin menjadi event yang ditunggu-tunggu, baik oleh alumni maupun komunitas lari,” lanjut Susilo.

Malah, ajang itu dapat menyebarkan dan menunjukkan dukungan ITB untuk pemulihan bangsa dari masa pandemi. Peserta event saling memberikan dukungan dan solidaritas agar bangsa ini segera bangkit dan sehat lagi.

Tiga kategori lomba

Pada ITB Ultra Marathon 2021, yayasan menyelenggarakan tiga kategori untuk para peserta. Pertama yaitu Exhibition Run. Kategori ini dikhususkan untuk pelari individual dengan lintasan sepanjang 125 K, 75 K, 50 K, dan 25 K. Lintasan memanjang mulai dari Kampus ITB di Sabuga, Bandung, Jawa Barat. Sedangkan garis finish-nya di Kampus ITB di Cirebon.

Lantaran pandemi, panitia menyelenggarakan kategori ini untuk kalangan terbatas dan peserta berlari secara luring. Namun, penonton dapat menikmati tebaran semangat para pelari melalui live streaming dan live report.

Tentunya, seluruh peserta, panitia, maupun pendukung mengutamakan protokol kesehatan. Sebagai salah satu bentuk dukungan kepada pemulihan Indonesia dari pandemi.

Di kategori kedua, yaitu Endurance Battle, panitia menggelarnya selama 30 hari mulai 19 November 2021. Masyarakat umum dapat mengikuti kegiatan tersebut secara daring. Bukan hanya alumni ITB, warga Indonesia pun dapat menjadi peserta. Bahkan, masyarakat di seluruh dunia pun dapat berpartisipasi. Kegiatan ini pun dipublikasikan melalui media sosial seperti IG live, YouTube, dan Facebook.

Panitia menargetkan 20 ribu orang berpartisipasi dalam kategori ini. Meski virtual, peseta harus tetap ingat. Utamakan protokol kesehatan.

Kategori ketiga yaitu Final Battle. Kegiatan ini berlangsung mulai 18 sampai 19 Desember 2021. Kategori ini mengakomodasi peserta yang merupakan alumni yang berdomisili di luar negeri dengan zona waktu berbeda-beda.

Bentuk pengabdian kepada Kampus Ganesha

ITB merupakan sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia. Pada 1920, ITB diresmikan dengan nama Technische Hoogeschool te Bandung. Kampus utamanya berlokasi di Jalan Ganesha, Kota Bandung, Jawa Barat.

ITB mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuannya yaitu memajukan Indonesia dan mengoptimalkan pembangunan bangsa yang maju serta bermartabat.

Berbekal dari tujuan itu, alumni Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FMTD) ITB pun menggalang aksi solidaritas untuk mendukung Kampus Ganesha mewujudkan misi tersebut. Satu di antaranya, YSF menggelar kegiatan olahraga bertajuk ITB Ultra Marathon.

Ajang itu digelar pertama kali pada 2017. Tak hanya berolahraga, yayasan pun lakukan penggalangan dana dari alumni dan jaringan. Dana dari hasil kegiatan-kegiatan itu pun diserahkan seluruhnya ke ITB.

Salah satu yang sudah dilakukan YSF melalui penggalangan dana itu yaitu merevitalisasi semua laboratorium di FTMD. Selain itu. YSF juga mendukung peningkatan kualitas pendidikan di ITB, khususnya FTMD.

Kegiatan-kegiatan itu merupakan bentuk pengabdian alumni kepada almamater. Yang pada akhirnya, pengabdian itu pun bermuara untuk bangsa dan negara.

——-

Kata Mereka, Marathon Bukan soal Kemenangan

ITB Ultra Marathon hadir kembali. Bagi para peserta, kegiatan tahunan yang digelar Yayasan Solidarity Forever itu memberikan kesan tersendiri. Lantaran itu, para peserta pun menyambut dengan antusias ajang lari ultra marathon yang diinisiasi oleh alumni Institut Teknologi Bandung ini.

Apa saja kesan para peserta?

“Hebat ya ITB Ultra Marathon mengompori olahraga rutin dan hidup sehat. Juga melakukan crowdfunding untuk ITB,” kata Betti Alisjahbana, Ketua Majelis Wali Amanat ITB 2014 – 2019, yang juga alumnus angkatan 1979.

“Life is a marathon. Itu adalah metafora. Tapi Relay-18 di ITB Ultra Marathon membuktikan pentingnya kerja sama dan kebersamaan untuk berhasil dalam kehidupan. Hadapi berbagai tantangan dan rintangan yang tak terbayangkan sebelumnya. Menemukan kekuatan dan kemampuan yang tidak pernah diduga ada. Akhirnya siapa yang menang bukanlah tujuan. Tetapi semangat kebersamaan, sportivitas, dan gaya hidup yang sehat. Vivat almamater,” kata Iwan Pontjowinoto, pakar keuangan syariah, alumnus angkatan 1973.

“Ikut Ultra Marathon (UM) ITB mengubah pikiran saya tentang lari. Katanya individual sport. Ternyata bisa menjadi kerja sama tim. Katanya Cuma bermodal napas dan dengkul. Ternyata butuh juga seabreg teori, strategi, running gear, GPS, cool shoes, jersey, race pack, live report, supporting team, selfie, masker, dan lain-lain,” kata Heru Setiawan, Direktur Strategi dan Pengembangan PGN 2020, alumnus angkatan 1983.

“Saya menghargai dan ucapkan terima kasih terurama kepada peserta yang mayoritas alumni ITB dan sponsor sehingga BNI-ITB Ultra Marathon ini bisa rutin terselenggara,” kata Ridwan Djamaluddin, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Salah satu momen yang tidak terlupakan itu memang di BNI-ITB UM 2017. Waktu saya jadi kapten dan momen yang paling diingat itu susahnya mencari teman dan memantau teman satu tim,” kata Theresia Ratih Sawitridjati, pelari CIT, alumnus angkatan 1989.

Gelaran olahraga itu diinisiasi oleh Yayasan Solidarity Forever (YSF). Kegiatan itu bertujuan meningkatkan dan menjaga solidaritas alumni ITB di seluruh dunia. Di samping itu, kegiatan itu turut menggelorakan semangat olahraga lari untuk civitas akademika ITB, alumni dan keluarga, mahasiswa, serta teman-teman ITB.

Selain itu, kegiatan itu pun bertujuan membangun semangat dan peduli pada almamater, serta menjadi sarana berbagi untuk membantu ITB.

ITB Ultra Marathon, Bukan Sekadar Adu Kecepatan

SAYA senang sekali bisa turut merasakan spirit kebersamaan dan solidaritas sesama alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Semua peserta berlari pada malam dan siang hari yang cerah.”

Ungkapan itu disampaikan Arcandra Tahar yang merupakan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2016-2019. Bagi alumnus ITB Angkatan 1989 itu, ITB Ultra Marathon membawa kesan tersendiri.

Kesan itu pun dirasakan Handaka B Mukarta yang merupakan alumnus ITB Angkatan 1986. Ia mengaku harus berjuang lebih keras mencapai garis finish. Ia memacu semangat, kekuatan, dan kecepatan di sepanjang lintasan. Usia dan fisik yang tak muda lagi menjadi hambatan.

Tapi begitu mendekati garis finish, hambatan itu hilang perlahan. Kesenangan muncul di depan mata.

Di pinggir lintasan, bahkan di dalam lintasan, juniornya terus memberikan semangat pada Handaka. Bahkan para junior yang mungkin berasal dari angkatan 10 tahun di bawahnya meneriakkan yel-yel khas ‘Anak Mesin’, fakultas semasa Handaka berkuliah di ITB.

“Seolah-olah mereka tahu, seniornya yang segeda karung goni ini sedang punya masalah berat untuk finish. Mereka tak mau berhenti, terus mengawal saya hingga masuk finish,” ujar Handaka dengan rasa bangga atas kemampuannya, dengan diselingi canda.

Bukan hanya untuk alumni ITB. Semangat itu pun dikobarkan untuk peserta maraton non-alumni ITB. Satu di antaranya dirasakan oleh Eni Rosita.

Eni merupakan alumnus Universitas Indonesia. Kobaran semangat dan solidaritas itu ia rasakan saat berlari di sepanjang lintasan. Bagi perempuan yang kerap meraih gelar fantastis dalam ajang maraton itu, BNI-ITB Ultra Marathon adalah ajang berlari jarak jauh yang berbeda.

“Biasanya lomba ultra marathon itu sepi. Sepanjang jalan kadang lari sendiri terus. Tapi di BNI-ITB Marathon, di jalan ramai. Apalagi Ketika di pos water station, meriah. Banyak yang cheering juga. Itu memberi semangat lebih dalam menjalani lomba.

Kini, kebersamaan dan solidaritas itu kembali dikobarkan Yayasan Solidarity Forever. Solidarity Run. Begitulah nuansa yang diusung dalam ITB Ultra Marathon 2021.

“Inilah waktu yang ditunggu para peserta lari, untuk kembali bertemu, berlari, saling men-support, dan berkolaborasi satu sama lain,” kata Ketua Yayasan Solidarity Forever, Susilo Siswoutomo.

Solidaritas dan sikap saling mendukung sangat dibutuhkan bangsa Indonesia, terutama di masa pandemi Covid-19. ITB Ultra Marathon pun menjadi momen terbaik untuk saling menunjukkan dukungan dan solidaritas bagi bangsa Indonesia, khususnya keluarga civitas akademika ITB.